Latar Belakang

Latar Belakang

Infrastruktur merupakan salah satu faktor penentu daya saing bangsa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan infrastruktur bertujuan mewujudkan pemerataan dan keadilan, katalisator pertumbuhan ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilayah, dan meningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) terus mendorong pembangunan infrastruktur berupa pembangunan jalan dan jembatan, bendungan, irigasi, sanitasi, air minum, pengelolaan sampah dan perumahan. Percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia dalam World Competitiveness Index.

Raport pembangunan infrastruktur selama 5 tahun ke belakang diantaranya adalah terbangunnya jalan sepanjang 3.432 km, jalan tol sepanjang 947 km, jalur kereta api sepanjang 754,59 km, LRT di Sumatera Selatan, Jakarta, Depok, Bekasi, Bandara Baru di Miangas, Letung, Tebeliang, Maratua, Morowali, Namniwel, Weru dan Koroway Batu dan 27 pelabuhan baru (Kantor Staf Presiden, 2018). Pembangunan tersebut diharapkan akan terus berlanjut dan karenanya perlu dilakukan upaya-upaya yang mendukung ke arah itu, termasuk di dalamnya adaptasi dan mitigasi bencana.

Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007, pengertian mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Sementara itu, bentuk dari adaptasi bencana dapat diejawantahkan dalam manajemen risiko. Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk : penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/ pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah mengalihkan risiko, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum). Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.

Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi). Manajemen risiko dimulai dari proses identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi, monitoring dan evaluasi.

Dalam paradigma Teknik Sipil dan Lingkungan, seiring meningkatnya kejadian bencana alam, ketidakpastian pertumbuhan ekonomi, peningkatan jumlah penduduk dan sebab lainnya tentu saja juga menghambat proses pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia. Oleh karena itu maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagaimana yang tercakup pada manajemen risiko. Tahapan tersebut harus dilakukan secara integral yang melingkupi beberapa aspek di keahlian Teknik Sipil, yaitu: Manajemen dan Rekayasa Konstruksi/ Rekayasa dan Manajemen Infrastruktur, Rekayasa Struktur, Rekayasa Geoteknik, Rekayasa dan Manajemen Sumber Daya Air serta Rekayasa dan Manajemen Transportasi. Sebab itu, pada acara KNPTS ke-10 tahun 2019 ini diharapkan adanya sumbangsih metode, konsep dan invensi dari akademisi maupun peneliti magister dan doktoral untuk menjawab tantangan tersebut.

Maksud dan Tujuan

Konferensi Nasional Pascasarjana Teknik Sipil tahun ini merupakan KNPTS yang kesepuluh, dimana secara umum dimaksudkan untuk menyediakan wadah saling tukar menukar informasi antar para lulusan dan mahasiswa Pascasarjana bidang Teknik Sipil mengenai perkembangan ilmu dan teknologi bangunan Teknik Sipil. Tujuan Konferensi Nasional ini antara lain:

  • Menyelaraskan penelitian-penelitian di bidang infrastruktur
  • Memberikan masukan bagi perbaikan terhadap penelitian untuk meningkatkan kualitas penelitian di bidang infrastruktur, dan
  • Menyediakan tempat belajar mahasiswa Pascasarjana Teknik Sipil dalam diskusi yang bernuansa akademis

Tema Kegiatan

Tema yang diusung dalam Konferensi Nasional Pascasarjana Teknik Sipil Tahun 2019 ini adalah:

Adaptasi dan Mitigasi Bencana dalam Mewujudkan Infrastruktur yang Berkelanjutan